Gue ngerasa kali ini judulnya bisa dianggap provokatif, tapi ini murni apa pendapat pribadi setelah memakainya. Dan yak beneran sekarang gue pake Linux untuk sehari-hari secara langsung di PC rumah, bukan dengan Virtual Machine.
Windows masih gue pake sebagai secondary OS dan gue pake dual boot di SSD terpisah, utamanya gue sekarang lebih di Linux. Dan inilah yang bikin gue terkejut, makanya mau gue share disini.
Tiap hal akan gue jabarkan secara detail, sehingga artikel ini akan berseri. Kali ini khusus membahas tentang Wi-Fi.
Wi-Fi
Saat masih di Windows, gue semakin heran kenapa Wi-Fi card Intel AX200 gue melambat. Selidik punya selidik, driver terbaru malah "mengunci" negosiasi Wi-Fi Intel AX200 dengan Wi-Fi Router di rumah hanya pada lebar bandwidth 20 MHz, padahal gue sudah pisahin frekuensi SSID menjadi 2, yang 2,4 GHz dan 5 GHz.
Tapi si Windows 11 tetep aja konek ke Wi-Fi Router hanya di kecepatan 143 Mbps, dan paling banter cuma 287 Mbps, padahal harusnya bisa sampe 1.200 Mbps atau idealnya dikisaran 700 - 800 Mbps'an.
Solusi paling jitu adalah dengan downgrade driver'nya ke driver sekitar tahun 2019 atau 2020an, tapi dulu cara ini manjur saat gue masih di Windows 10, tapi tidak di Windows 11. Di Windows 11 driver Wi-Fi Intel paling tua yang bisa gue pake berasal dari tahun 2023.
Gue sampe kasak-kusuk di forum Intel langsung dan sepertinya Intel memilih kebijakan untuk konek ke Wi-Fi Router dengan lebar bandwidth 20 MHz demi kestabilan mayoritas pengguna Wi-Fi card Intel. Sebab kalo dipaksain tetep default di 80 MHz, mayoritas pengguna mengalami masalah kestabilan seperti gagal konek, atau bisa konek tapi rawan terputus.
Agak sedih baca keputusan ini, sekalipun internet di rumah gue gak lebih dari 200 Mbps, tapi kalo file transfer dari smartphone kan terasa lemot kalo cuma 143 Mbps, harusnya kan bisa 600 Mbps dari si 1.200 Mbps itu dibagi 2 (1 PC, 1 smartphone).
Pas gue coba pake Linux Live Boot, waktu itu gue pake Zorin OS 18. Ternyata bisa konek dengan lebar bandwidth 80 MHz di frekuensi 5 GHz. Sampai akhirnya gue install itu Zorin OS 18 dual boot dengan Windows 11.
Hasilnya sangat baik sekali, kalo di Windows 11, gue cuma "kadang-kadang" bisa 80 MHz. Tapi kalo di Linux Zorin OS 18, justru kebalikannya, cuma "kadang-kadang" aja di 20 MHz.
Lalu gue coba pindah dari Zorin OS 18 ke Cachy OS (nanti terpisah gue jelasin apa alasan gue pindah di artikel terpisah), dan hasilnya juga mirip, Cachy OS cuma "kadang-kadang" aja di 20 MHz, dan lebih sering lock di 80 MHz.
Konsep driver vs Konsep kernel
Di Windows, peripheral komunikasi dengan operating system itu memakai driver. Produsen peripheral lah yang membuat driver supaya Windows bisa komunikasi dengan peripheral tersebut. Sementara di Linux gak ada konsep driver, melainkan sudah di integrasikan langsung di dalam kernel si Linux. Artinya lebih "native" atau lebih langsung. Makanya jadi lebih stabil dan punya peluang lebih besar untuk bisa konek di lebar bandwidth 80 MHz pada frekuensi 5 GHz.
Gue gak tahu siapa yang bikin informasi ini untuk dimasukan ke dalam kernel. Beberapa sumber yang gue baca, kadang ada campur tangan produsen seperti AMD yang terkenal ramah dan terbuka dengan Linux, tapi ada juga yang bilang pada maintainer Linux sendiri yang mengerjakan.
Yang pasti sekali udah masuk ke Kernel, biasanya gak ada perubahan lagi untuk hardware itu, paling adanya penambahan hardware baru yang lain. Makanya stabil. Dan si pencipta Linux, si Om Linus Troval beserta para tim developernya itu baru akan rilis kernel jika sudah stable. Lalu para tim maintainer distro Linux seperti Zorin atau Cachy baru deploy di repository mereka saat sudah masuk kategori Stable.
Lalu bagaimana dan fitur-fitur? nah si fitur ini gak lewat kernel, tapi lewat aplikasi, walaupun jujur gue belum tahu si aplikasi di tingkat branch (cabang), di tingkat DE (Desktop Environment) atau murni aplikasi terpisah gak peduli cabang atau DE.
Ini bedanya sama Windows, dimana fitur masuk lewat driver. Jadi di Windows bisa ada potensi sebuah fitur membuat driver gak stabil. Kalo di Linux ini hampir gak terjadi. Kernel harus stabil, fitur disajikan lewat aplikasi, kalo si fitur ini menyebabkan bug, yang crash cuma si aplikasi, dan operating system tetep hidup dan beroperasi normal.
Membandingkan Zorin OS dan Cachy OS, karena basenya beda distor, si Zorin ini turunan Debian dengan Desktop Environment GNOME, sementara Cachy turunan Arch dengan Dekstop Environment KDE Plasma. Gue melihat fitur Wi-Fi-nya lebih lengkap di Arch. Jadi intinya, si kernelnya tetap sama. Tapi fitur-fitur bisa beda tergantung distro Linux.
Gue blom coba pasang GNOME di Cachy OS, sebab buat apa gue pindah ke Cachy kalo masih GNOME juga seperti Zorin OS.