Alasan gue milih Wi-Fi 6 yang nama ilmiahnya 802.11ax karena bersifat dual-band. Bisa beroperasi di 2.4 GHz dan 5 GHz. Kecepatan max nya 2.400 Mbps di spatial 4x4. Niat utama gue memilih loncat dari Wi-Fi 4 ke Wi-Fi 6 lebih karena khawatir jika coverage area 5 GHz'nya jelek, jadi gue sangat mengharapkan 2.4 GHz dari Wi-Fi 6 bisa mengatasi limitasi dari Wi-Fi 4.
Apakah benar? hahaha ternyata kisahnya jadi beda. Ok, seperti biasa, gue mencari Wireless Router yang High Power / High Gain. Anehnya malah gak ada. Jadi ini tebakan gue. Alasan Wireless Router High Power / High Gain malah tidak diproduksi di generasi Wi-Fi 6 mungkin karena sinyalnya terlalu ganggu bisa tembus 3 kamar bertembok beton lho. Kalo buat gue yang area nya luas, gak ganggu tetangga, tapi gak semua orang seperti gue kan? Apalagi yang di apartemen, atau kompleks perumahan, wah itu udah ganggu banget. Bisa jadi malah gak stabil dan berakibat pembeli kapok, sampai gak ada yang beli dan jadi gak laku.
Jadi Wireless Router Wi-Fi 4 gue dulu yang beroperasi di 2.4 GHz bisa sampe luar pager depan rumah. Kini si Wireless Router Wi-Fi 6 baru yang beroperasi di 2.4 GHz cuma bisa sampe bagian dalam pager depan. Begitu pula di halaman belakang, dulu area saung belakang masih kuat waktu masih pake Wireless Router High Power Wi-Fi 4, sekarang cenderung lemah. Termasuk kamar ART di belakang jadi ikutan melemah karena udah terhalang 3 tembok beton, tapi overall masih bisa buat Whatsapp call, Youtube dan sosial media.
Wireless Router dual band punya fungsi SmartConnect. Cukup pancarkan satu nama SSID, device yang konek akan otomatis milih mau ke 5 GHz atau ke 2.4 GHz. Jadi kalo gue berada di ruang tengah, di kamar, harapannya konek ke 5 GHz dan kalo gue keluar dari circle tersebut pindah ke 2.4 GHz. Yak ini akan terjadi kalo lo berawal dari circle tengah. Saat lo konek ke SSID dengan SmartConnect, betul hampir 90% device lo pasti konek ke 5 GHz, dan seiring lo berjalan menjauh, device lo otomatis pindah ke 2.4GHz. Nah kalo lo balik lagi mendekat, apakah akan otomatis ke 5 GHz lagi? jawabannya TIDAK!
Kesel gue, karena logikanya sinyal Wi-Fi di dekat Wireless Router itu keduanya sama-sama kuat baik yang 5 GHZ atau pun yang 2.4 GHz sehingga device tidak merasa butuh pindah ke 5 GHz.
Jadi logikanya adalah saat mengaktifkan Wi-Fi, device akan mencari yang terbaik, meski ada 2 sinyal yang sama kuat, tapi 5 GHz lebih baik dari 2.4 GHz. Koneklah ke 5 GHz. Lalu lo berjalan menjauh, sinyal 5 GHz melemah dan device menemukan ada SSID yang namanya sama, sinyalnya masih cukup kuat meski 2.4 GHz dan otomatis pindah kesana.
Saat lo kembalil mendekat, sinyal 2.4GHz nya masih kuat, jadi device gak akan pindah ke 5 GHz meski itu yang terbaik. Mubazir lagi deh speed internet dari provider gue yang udah mencapai 200 Mbps. Cara agar kembali ke 5 GHz adalah matikan Wi-Fi di device, lalu nyalakan lagi untuk mendeteksi ulang. Hmmmm... kenapa gak di tambah logika nya ya? di Windows ada opsi untuk maksa selalu mencari 5 GHz sebagai prioritas utama. Tapi sejauh ini gue gak nemu di smartphone atau tablet Android. Entahlah, mungkin suatu hari nanti.
Alhasil, gue pake dua nama SSID. Yang pertama gue tambahin akhiran _24G, yang kedua tambahin akhiran _5G. Jadi gue paksa device untuk selalu konek ke 5 GHz, kalo putus karena kejauhan ya udah pake mobile data aja, toh sekarang quota udah gede-gede dan harga sama. Yang SSID 2.4GHz itu gue konek manual kalo memang mau upload atau streaming dari teras rumah, atau saung belakang saat SSID 5 GHz nya gak nyampe kesana.
Gue test Wireless Router Wi-Fi 6 2.4 GHz dengan spatial stream 2x2 di 20 MHz kecepatan resminya 286 Mbps, jadi 65 - 75% nya ada di kisaran 185 - 214 Mbps. Kenyataannya meski smartphone, tablet, PC dan laptop gue udah di upgrade supaya support Wi-Fi 6 dengan spatial stream 2x2, saat gue test speed jarak dekat cuma dapet sekitar 130 - 150an Mbps. Lah kok bisa? Karena disaat itu masih ada device jadul yang konek ke Wireless Router dengan protokol Wi-Fi 4. Ini yang disebut dengan Backward Compatibility atau settingan Auto. Kalo mau ngacir gue harus eliminir semua device itu supaya bisa benar-benar dapat optimal atau settingan Wireless Router gue hanya mengizinkan device Wi-Fi 6 aja yang boleh konek. Hehehe jadi ternyata Wi-Fi itu banyak term and condition yah.
Wi-Fi 6 ada versi peningkatannya, yaitu Wi-Fi 6E, dimana bisa triple band. 2.4 GHz, 5 GHz dan 6 GHz. Tapi masih mubazir untuk gue, kenapa? karena 6 GHz meski kenceng, tapi makin sempit lagi coverage area'nya, sementara Wireless Router gue ada di ruang tengah dan aktivitas utama gue ada di kamar tidur dan ruang tamu samping yang suka gue jadiin office kalo lagi WFH. Ya mubazir sinyal 6 GHznya gak nyampe optimal. Makanya gue pilih Wi-Fi 6 polos, biar lebih murah buat beli Wireless Routernya.
Ada satu fitur dari Wi-Fi 4 yang disempurnakan di Wi-Fi 5 dan 6, yaitu Beamforming. Di Wi-Fi 4 gak semua Wireless Router mengadopsi fitur ini. Di Wi-Fi 5, fitur Beamforming wajib ada, dan di Wi-Fi 6 semakin disempurnakan. Fitur ini memungkinkan si Wireless Router mengubah resonansi gelombang sinyalnya supaya lebih pas nyampe ke device. Lo bayangin aja Surround Sound di di speaker stereo. Bisa berasa muter padahal speakernya cuma 2 kan? nah konsepnya sama, tapi efeknya coverage area 5 GHz jadi lebih optimal, iya lo akan lihat cuma 1 atau 2 bar di status sinyal, tapi speednya tetep ngacir sekitar 80 - 90 Mbps, dibanding lo harus pindah ke 2.4 GHz yang cuma sekitar 50an Mbps.
Sekarang gue masih puas pake Wi-Fi 6 dirumah, saat sekarang sudah ada Wi-Fi 7, dan sejujurnya gue tergoda, tapi ya let's wait and see lah... kenapa? Lanjut gue jelasin di artikel Wi-Fi 7.